Jumat, 19 Oktober 2012

PROBLEMATIKA KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DAN KAITANNYA DENGAN ISLAM SERTA UPAYA PENANGGULANGGANNYA


disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Akhlaq Tasawwuf,
 Semester: tiga

Dosen Pengimpu: 











DISUSUN OLEH :
AHMAD MUTHOHIR






SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM HASANUDDIN PARE 
jalan kelapa





KATA  PENGANTAR

                 segala puji bagi Allah dengan rahmatnya yang telah memberikan kami bekal hidup yang sangat istimewa yakni berupa akal yang sehat yang melebihi segala-galanya. dan solawat salam Allah moga tetap terlimpahkan kepada nabiyullah muhammad 'alaihi sholatuwassalam. yang mana seorang nabi sebagai uswah uswatun hasanah suritauladan yang baik untuk para umatnya.
Akhlak tasawuf merupakan solusi tepat dalam mengatasi krisis-krisis akibat modernisasi untuk melepaskan dahaga dan memperoleh kesegaran dalam mencari Tuhan. Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya iu brrada di hadirat-Nya. atas nikmat dan sukur ini kami akan mencoba untuk menyusun sebuah karya tulis yang berjudul "PROBLEMATIKA KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DAN KAITANNYA DENGAN ISLAM SERTA UPAYA PENANGGULANGGANNYA"dalam rangka untuk memenuhi tugas kuliah semester tiga mengenai ilmu akhlaq tasawuf. 
             Tasawuf perlu dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan beberapa tujuan, antara lain: Pertama, untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kebingungan dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai akibat kurangnya nilai-nilai spiritual. Kedua, memahami tentang aspek asoteris islam, baik terhadap masyarakat Muslim maupun non Muslim. Ketiga, menegaskan kembali bahwa aspek asoteris islam (tasawuf) adalah jantung ajaran islam.
Tarikat atau jalan rohani (path of soul) merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam islam sebagaimana syariat bersumber dari Al-Quran dan Al- Sunnah. Betapapun ia tetap menjadi sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam islam







DAFTAR  ISI

BAB I:

pembahasan:

I.    pengertian masalah sosial masyarakat...........................

II.     macam-macam masalah sosial,.....................................


III.    masalah-masalah sosial yang penting,  an harus ada

penanggulangan di antaranya:.......................................


IV.    permasalahan generasi muda......................................

V.    stereotip peran gender................................................


VI.    masyarakat modern...................................................

VII.    problematika masyarakat modern................................


VIII.    penutup.....................................................................

IX.    kritik dan saran ........................................................


BAB I.

PEMBAHASAN:

1.    Pengertian Masalah Sosial Masyarakat.
Masalah sosial adalah ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan hidupnya kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok para warga kelompok sosial, sehingga menyebabkan rusaknya ikatan sosial.
Blumer (1971) dan Thompson (1988) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama. Entitas tersebut dapat merupakan pembicaraan umum atau menjadi topik ulasan di media massa, seperti televisi, internet, radio dan surat kabar.
Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Salah satu penyebab utama timbulnya masalah sosial adalah pemenuhan akan kebutuhan hidup (Etzioni, 1976). Artinya jika seorang anggota masyarakat gagal memenuhi kebutuhan hidupnya maka ia akan cenderung melakukan tindak kejahatan dan kekerasan. Dan jika hal ini berlangsung lebih masif maka akan menyebabkan dampak yang sangat merusak seperti kerusuhan sosial. Hal ini juga didukung oleh pendapatnya Merton dan Nisbet (1971) bahwa masalah sosial sebagai sesuatu yang bukan kebetulan tetapi berakar pada satu atau lebih kebutuhan masyarakat yang terabaikan.
Selain itu, masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
    . Faktor Penyebab Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1)    Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2)    Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3)    Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4)    Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.




BAB II
2.    Macam-macam Masalah Sosial,
Dan untuk memudahkan mengamati masalah-masalah sosial, Stark (1975) membagi masalah sosial menjadi 3 macam yaitu :
(1)    Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok, pelecehan seksual dan masalah lingkungan.
(2)    Perilaku menyimpang, seperti : kecanduan obat terlarang, gangguan mental, kejahatan, kenakalan remaja dan kekerasan pergaulan.
(3)     Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut, kependudukan (seperti urbanisasi) dan kesehatan seksual.

3.    Masalah-Masalah Sosial yang penting, Dan harus ada penanggulangan diantaranya:

- Kemiskinan
- Kejahatan
- Disorganisasi keluarga
- Masalah generasi muda
- Peperangan
- Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat
- Masalah kependudukan
- Masalah lingkungan
- Birokrasi, dan lain-lain
a.    Kemiskinan
Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat yang telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur secara paksa adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak akan pernah berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi pemukimannya yang baru dan penggusuran secara paksa bahkan sampai dengan adanya unsur anarkisme itu adalah melanggar hak asasi manusia yang paling hakiki dan harus dihormati bersama. Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering kali disesali oleh para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan
Untuk mengatasi kemisikinan, paling tidak harus dilihat dari konteks permasalahannya. Karena kemiskinan itu sendiri timbul dari berbagai faktor yang setiap fakto memerlukan penanganan khusus, diantaranya:
1.      Terbatasnya sumber daya alam, hal ini bisa diantisipasi dengan adanya onservasi dan aturan untuk mengola sumber daya alam tersebut. Karena pengolaan yang baik akan memberikan kemakmuran, sedangkan kemakmuran itu sendiri ukuran tingkat kesejahteraan suatu bangsa.
2.      Terbatasnya sumber daya manusia. Sumber daya alam yang melimpah tanpa adanya pengolahan dari manusia tentu saja tidak akan bisa dimanfaatkan dan dinikmati. Sebagai contoh untuk daerah yang minim penduduk maka dari itu diadakan transmigrasi yang bertujuan selain untuk pemerataan penduduk juga untuk pengolahan sumber daya alam di daerah tersebut.
3.      Terbatasnya barang modal ini salah satunya bisa diantisipasi dengan cara membuat kerja sama dengan negara yang lebih maju dan modern dalam bidang teknologi dan peradabannya.
4.      Rendahnya produktivitas ini juga bisa diantisipasi dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan pemanfaatan bioteknologi yang ramah lingkungan dalam pengolahan sumber daya alam sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih unggul.
5.      Rendahnya pendidikan ini bisa diantisipasi dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan serta memberikan bantuan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan dan memberikan keterampilan dalam bidang tertentu sehingga masyarakat dari kalangan kurang mampu pun juga bisa berkarya dan mengolah sumber daya alam yang ada.
b.    Pendidikan
Masalah pendidikan seringkali dicermati sebagai masalah teknis belajar mengajar dalam ruang lingkup kelas yang terbatas, kebijakan pendidikan nasional serta fasilitas pendidikan. Masalah pendidikan jarang dicermati dalam bentuk kekuatan kelembagaan sekolah, interaksi kelembagaan sekolah dengan masyar, interaksi birokrasi pendidikan, pengaruh kelembagaan pendidikan tradisional dan pengaruh swadaya masyarakat dalam upaya peningkatan pendidikan
Pendidikan adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial dan melalui pendidikan masyarakat dapat direkonstruksi. Rekonstruksi berarti reformasi budaya, dengan melalui pendidikan reformasi dapat dijalankan, terutama reformasi budi pekerti, reformasi kebudayaan (keindonesiaan), dan reformasi nasionalisme (NKRI).Tolstoy berpendapat sasaran puncak pendidikan ada di luar pendidikan (Achambault, dalam Freire, 2001:491), yaitu kebudayaan. Tolstoy beranggapan nilai-nilai masyarakat “beradab” akan tetap bertahan meski dihujani aneka ragam konflik atau ajang klaim-klaim yang saling bertentangan. Pendidikan yang dinginkan masyarakat ialah proses pendidikan yang bisa mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia. Konsep sosialisasi pendidikan yang dapat diterapkan adalah cara berhubungan antar individu atau antar kelompok atau individu dengan kelompok yang menimbulkan bentuk hubungan tertentu. Sekolah dapat dijadikan sarana pembauran multietnik. Guru harus membina siswa agar bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis, bersahabat, dan akrab dengan sesama teman dari berbagai latar belakang etnik. Proses pembelajaran di kelas multietnik dapat menghasilkan peradaban baru sesuai dengan harapan reformasi. Untuk ini, dapat dipakai teori, model, strategi pengajaran multietnik sebagai sarana menjalankan reformasi pendidikan dan kebudayaan (lihat Wakhinudin, 2006). Implementasi strategi pengajaran multietnik di kelas hendaklah bertujuan pembentukan peradaban bangsa Indonesia yang mulia. Sampai saat ini, pengajaran multietnik belum dilegalisasikan oleh pemerintah. Pengajaran bahasa daerah dilaksanakan dalam format restorasi (menjaga bahasa/budaya dari kepunahan) dan bukan dalam format pluralisme (mengakui perbedaan bahasa). Dengan format tersebut, pengajaran bahasa daerah lebih terkesan otoriter dan cenderung mengabaikan fakta keragaman etnik di dalam kelas.
c.    Pengangguran
Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok permasalahan ekonomi makro. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif dan bukannya negatif. Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi mencerminkan stabilitas harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang dan jasa. Inflasi juga sangat berkaitan dengan purchasing power atau daya beli dari masyarakat. Sedangkan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada upah riil. Inflasi sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kenaikan harga dibarengi dengan kenaikan upah riil. Masalah ketiga adalah pengangguran. Memang masalah pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Negara berkembang seringkali dihadapkan dengan besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk. Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Masalah pengangguran itu sendiri tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang namun juga dialami oleh negara-negara maju. Namun masalah pengangguran di negara-negara maju jauh lebih mudah terselesaikan daripada di negara-negara berkembang karena hanya berkaitan dengan pasang surutnya business cycle dan bukannya karena faktor kelangkaan investasi, masalah ledakan penduduk, ataupun masalah sosial politik di negara tersebut.
Sedangkan solusi untuk mengatasi pengangguran yang dapat ditempuh, antara lain:
1.      Ada atau tersedianya lapangan kerja disebabkan oleh adanya pertumbuhan ekonomi karena setiap pertumbuhan ekonomi satu persen(1%) akan memicu terserapnya 400.000 orang tenaga kerja.
2.      Dibutuhkannya Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri adalah kesempatan emas terciptanya peluang untuk bekerja.
3.      Ekspansi usaha. Ekspansi usaha tidak dilakukan begitu saja. Salah satu penyebabnya adalah adanya efisiensi dan efektivitas usaha yang tinggi.
4.    Adanya jaminan tidak ada Pemutusan Hubungan Kerja.
4.    Permasalahan generasi muda
Lebih dari separuh jumlah penduduk indonesia berusia di bawah 19 tahun. Dalam keadaan seperti ini nampak jelas bahwa masalah generasi muda bukanlah masalah dalam lingkup kecil dan terbatas. Generasi muda saat ini menempati posisi yang strategis dan khas karena merekalah yang paling terkena oleh perkembangan zaman, dan pastilah mereka akan terlibat dalam arus zaman tersebut.
Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini, antara lain sebagai berikut:
a.  Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk jiwa pemuda.
b.  Kurangnya kepastian yang dialami oleh pemuda terhadap masa depannya.
c. Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia.
d.  Kurangnya lapangan dan kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran di kalangan generasi muda sehingga menurunnya tingkat produktivitas.
Dan dalam hal ini perlu adanya pembinaan dan pengembangan generasi muda, yang meliputi dua pengertian pokok, yaitu:
a.    Generasi muda sebagai subjek pembinaan dan pengembangan yang bertujuan untuk melibatkannya dalam menyelsaikan permasalah yang ada.
b.    Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan yang bertujan untuk melatih dan mendidik para generasi muda supaya bisa mandiri dan berkembang.
5.    Stereotip peran gender,
Myers (2002) menjelaskan bahwa stereotip adalah suatu bentuk keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok tentang atribut personal yang ada pada suatu kelompok tertentu. Dalam kehidupan sosial nyata, stereotip peran gender dalam kehidupan masyarakat sebagai sebuah bentuk keyakinan sering bersifat tidak akura, generalisasi berlebihan dan memberikan penolakan terhadap keberadaan atribut sebuah kelompok yang berlawanan dengan keyakinan awal. Contoh fenomena stereotip peran gender adalah seorang pemimpin yang berhasil di Indonesia seringkali diidentikkan dengan peran laki-laki. Dalam kenyataan masa milennium, stereotip peran gender berhasil identik dengan laki-laki perlu dipertanyakan karena banyak pemimpin perempuan di indonesia terbukti cukup berhasil melaksanakan tugas kepemimpinannya di berbagai bidang, seperti bidang pemerintahan, bisnis, maupun pendidikan.
Dalam upaya untuk mencapai kesetaraan gender dapat dilakukan dengan melalui proses rekayasa sosialisasi atau resosialisasi pemahaman masyarakattentang eksistensi peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang lebih seimbang. Keseimbangan itu diperlukan agar tercapai tujuan kemitraan koperatif antara gender laki-laki dan perempuan.
6.    Masyarakat Modern,
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Masyarakat adalah pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu). Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Jadi masyarakat modern berarti suatu himpunan yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.
    Menurut Deliar Noer ada 5 ciri-ciri masyarakat modern sebagai berikut :
1.    Bersifat rasional,
2.    Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh,
3.    Menghargai waktu,
4.    Bersikap terbuka,
5.    Berpikir objektf.
Dalam pada itu, Alfin Toffler, sebagai dikemukakan oleh Jalaludin Rahmat, membagi masyarakat ke dalam tiga bagian. Yaitu masyarakat pertanian (Agricultural Society), masyarakat industri (Industrial Society), dan masyarakat infomasi (Informatical Society).
Masyarakat pertanian, ekonominya bertumpu pada tanah /sumber alam. Teknologi yang digunakan adalah teknologi kecil seperti pompa penyemprot hama, racun tikus, dan sebagainya. Informasi yang mereka gunakan adalah media tradisional, dari mulut ke mulut, bersifat lokal, dan informasi terpusat pada salah seorang yang dianggap tokoh. Dari segi kejiwaan, mereka banyak menggunakan kekuatan yang bersifat irrasional, seperti penanganan masalah dengan cara pergi ke dukun.
Selanjutnya masyarakat industri berbeda dengan masyarakat pertanian. Modal dasar berupa peralatan produksi dan mesin-mesin produksi. Teknologi yang digunakan adalah teknologi tinggi. Informasi yang mereka gunakan sudah menggunakan media cetak atau tulisan yang dapat disimpan oleh siapa saja. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan berpikir untuk hidup secara makmur dalam bidang materi.
Yang ketiga adalah masyarakat informasi, yang paling menentukan dalam masyarakat informasi adalah orang-orang yang paling banyak memiliki informasi. Dari segi teknologi, masarakat informasi menggunakan teknologi elektronika. Penggunaan teknologi elektronika telah mengubah lingkungan informasi dari yang bersifat lokal dan nasional kepada lingkungan yang bersifat internasional, mendunia, dan global. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang serba ingin tahu, mampu menjelaskan, dan imajinatif.
7.    Problematika Masyarakat Modern,
Kemajuan di bidang teknologi pada zaman modern ini telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah (positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif).
Efek positifnya tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan. Misalnya penggunaan teknologi kontrasepsi dapat menyebabkan orang dengan mudah dapat melakukan hubungan seksual tanpa harus takut hamil atau berdosa. Jaringan-jaringan peredaran obat-obat terlarang, tukar menukar informasi, penyaluran data-data film yang berbau pornografi di bidang teknologi komunikasi seperti komputer, faximile, internete, dan sebagainya akan semakin intensif pelaksanaannya.
Hal tersebut di atas adalah gambaran-gambaran masyarakat modern yang obsesi keduniaannya tampak lebih dominan ketimbang spritual. Kemajuan teknologi sains dan segala hal yang bersifat duniawi jarang disertai dengan nilai spiritual.
•          Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuaannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual. Jika hal tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa. Semua itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba hidup dengan alam yang kasat mata.
•           Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti pelacur, mereka menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan dirinya tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Nashr melihat, kondisi manusia modern sekarang mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar dan bersifat spiritual, mereka gagal menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak ada keseimbangan dalam diri. Hal ini akan semakin parah apabila tekanannya pada kebutuhan materi semakin meningkat sehingga keseimbangan semakin rusak. Oleh karena itu, manusia memerlukan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya. Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran iptek telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern, sebagai berikut :
1.    Desintegrasi ilmu pengetahuan
2.    Kepribadian yang Terpecah
3.    Penyalahgunaan Iptek
4.    Pendangkalan Iman
5.    Pola Hubungan Materialistis
6.    Menghalalkan Segala Cara
7.    Stres dan Frustasi
8.    Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya
9.    Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf
BAB, III.
8.    PENUTUP
 KRITIK    DAN    SARAN :
 Ajaran dalam tasawuf memberikan solusi bagi kita untuk menghadapi krisis-krisis dunia. Seperti ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan manusia memiliki pegangan yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya pada Tuhan. Selanjutnya sikap frustasi dapat diatasi dengan sikap ridla. Yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Dengan ini maka selesai sudahlah karya kami yang berjudulkan “ problematika kehidupan sosial masyarakat dan kaitannya dengan islam serta upaya penanggulanggannya” . dan tiadalah sempurna karya ini bila anda tidak memberikan keritik dan saran anda karna kemasukan sejenis apapun dari anda akan membuat kami lebih baik untuk menyusun karya-karya ilmiah di episode selanjutnya.
wassalamualaikum Wr, Wb.
Diposkan:
PUKUL: 08-3,  WIB
Tgl: 29-10-2012
PROBLEMATIKA KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DAN KAITANNYA DENGAN ISLAM SERTA UPAYA PENANGGULANGGANNYA


disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: IAID, IBD, ISD,
semester: tiga

Dosen Pengimpu:














DISUSUN OLEH :
AHMAD MUTHOHIR






SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM HASANUDDIN PARE
Jalan Kelapa

KATA  PENGANTAR
Akhlak tasawuf merupakan solusi tepat dalam mengatasi krisis-krisis akibat modernisasi untuk melepaskan dahaga dan memperoleh kesegaran dalam mencari Tuhan. Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya iu brrada di hadirat-Nya.
Tasawuf perlu dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan beberapa tujuan, antara lain: Pertama, untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kebingungan dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai akibat kurangnya nilai-nilai spiritual. Kedua, memahami tentang aspek asoteris islam, baik terhadap masyarakat Muslim maupun non Muslim. Ketiga, menegaskan kembali bahwa aspek asoteris islam (tasawuf) adalah jantung ajaran islam.
Tarikat atau jalan rohani (path of soul) merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam islam sebagaimana syariat bersumber dari Al-Quran dan Al- Sunnah. Betapapun ia tetap menjadi sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam islam







DAFTAR  ISI

BAB I:

pembahasan:

I.    pengertian masalah sosial masyarakat...........................

II.     macam-macam masalah sosial,.....................................


III.    masalah-masalah sosial yang penting,  an harus ada

penanggulangan di antaranya:.......................................


IV.    permasalahan generasi muda......................................

V.    stereotip peran gender................................................


VI.    masyarakat modern...................................................

VII.    problematika masyarakat modern................................


VIII.    penutup.....................................................................

IX.    kritik dan saran ........................................................


BAB I.

PEMBAHASAN:

1.    Pengertian Masalah Sosial Masyarakat.
Masalah sosial adalah ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan hidupnya kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok para warga kelompok sosial, sehingga menyebabkan rusaknya ikatan sosial.
Blumer (1971) dan Thompson (1988) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama. Entitas tersebut dapat merupakan pembicaraan umum atau menjadi topik ulasan di media massa, seperti televisi, internet, radio dan surat kabar.
Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Salah satu penyebab utama timbulnya masalah sosial adalah pemenuhan akan kebutuhan hidup (Etzioni, 1976). Artinya jika seorang anggota masyarakat gagal memenuhi kebutuhan hidupnya maka ia akan cenderung melakukan tindak kejahatan dan kekerasan. Dan jika hal ini berlangsung lebih masif maka akan menyebabkan dampak yang sangat merusak seperti kerusuhan sosial. Hal ini juga didukung oleh pendapatnya Merton dan Nisbet (1971) bahwa masalah sosial sebagai sesuatu yang bukan kebetulan tetapi berakar pada satu atau lebih kebutuhan masyarakat yang terabaikan.
Selain itu, masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
    . Faktor Penyebab Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1)    Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2)    Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3)    Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4)    Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.




BAB II
2.    Macam-macam Masalah Sosial,
Dan untuk memudahkan mengamati masalah-masalah sosial, Stark (1975) membagi masalah sosial menjadi 3 macam yaitu :
(1)    Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok, pelecehan seksual dan masalah lingkungan.
(2)    Perilaku menyimpang, seperti : kecanduan obat terlarang, gangguan mental, kejahatan, kenakalan remaja dan kekerasan pergaulan.
(3)     Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut, kependudukan (seperti urbanisasi) dan kesehatan seksual.

3.    Masalah-Masalah Sosial yang penting, Dan harus ada penanggulangan diantaranya:

- Kemiskinan
- Kejahatan
- Disorganisasi keluarga
- Masalah generasi muda
- Peperangan
- Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat
- Masalah kependudukan
- Masalah lingkungan
- Birokrasi, dan lain-lain
a.    Kemiskinan
Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat yang telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur secara paksa adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak akan pernah berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi pemukimannya yang baru dan penggusuran secara paksa bahkan sampai dengan adanya unsur anarkisme itu adalah melanggar hak asasi manusia yang paling hakiki dan harus dihormati bersama. Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering kali disesali oleh para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan
Untuk mengatasi kemisikinan, paling tidak harus dilihat dari konteks permasalahannya. Karena kemiskinan itu sendiri timbul dari berbagai faktor yang setiap fakto memerlukan penanganan khusus, diantaranya:
1.      Terbatasnya sumber daya alam, hal ini bisa diantisipasi dengan adanya onservasi dan aturan untuk mengola sumber daya alam tersebut. Karena pengolaan yang baik akan memberikan kemakmuran, sedangkan kemakmuran itu sendiri ukuran tingkat kesejahteraan suatu bangsa.
2.      Terbatasnya sumber daya manusia. Sumber daya alam yang melimpah tanpa adanya pengolahan dari manusia tentu saja tidak akan bisa dimanfaatkan dan dinikmati. Sebagai contoh untuk daerah yang minim penduduk maka dari itu diadakan transmigrasi yang bertujuan selain untuk pemerataan penduduk juga untuk pengolahan sumber daya alam di daerah tersebut.
3.      Terbatasnya barang modal ini salah satunya bisa diantisipasi dengan cara membuat kerja sama dengan negara yang lebih maju dan modern dalam bidang teknologi dan peradabannya.
4.      Rendahnya produktivitas ini juga bisa diantisipasi dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan pemanfaatan bioteknologi yang ramah lingkungan dalam pengolahan sumber daya alam sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih unggul.
5.      Rendahnya pendidikan ini bisa diantisipasi dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan serta memberikan bantuan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan dan memberikan keterampilan dalam bidang tertentu sehingga masyarakat dari kalangan kurang mampu pun juga bisa berkarya dan mengolah sumber daya alam yang ada.
b.    Pendidikan
Masalah pendidikan seringkali dicermati sebagai masalah teknis belajar mengajar dalam ruang lingkup kelas yang terbatas, kebijakan pendidikan nasional serta fasilitas pendidikan. Masalah pendidikan jarang dicermati dalam bentuk kekuatan kelembagaan sekolah, interaksi kelembagaan sekolah dengan masyar, interaksi birokrasi pendidikan, pengaruh kelembagaan pendidikan tradisional dan pengaruh swadaya masyarakat dalam upaya peningkatan pendidikan
Pendidikan adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial dan melalui pendidikan masyarakat dapat direkonstruksi. Rekonstruksi berarti reformasi budaya, dengan melalui pendidikan reformasi dapat dijalankan, terutama reformasi budi pekerti, reformasi kebudayaan (keindonesiaan), dan reformasi nasionalisme (NKRI).Tolstoy berpendapat sasaran puncak pendidikan ada di luar pendidikan (Achambault, dalam Freire, 2001:491), yaitu kebudayaan. Tolstoy beranggapan nilai-nilai masyarakat “beradab” akan tetap bertahan meski dihujani aneka ragam konflik atau ajang klaim-klaim yang saling bertentangan. Pendidikan yang dinginkan masyarakat ialah proses pendidikan yang bisa mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia. Konsep sosialisasi pendidikan yang dapat diterapkan adalah cara berhubungan antar individu atau antar kelompok atau individu dengan kelompok yang menimbulkan bentuk hubungan tertentu. Sekolah dapat dijadikan sarana pembauran multietnik. Guru harus membina siswa agar bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis, bersahabat, dan akrab dengan sesama teman dari berbagai latar belakang etnik. Proses pembelajaran di kelas multietnik dapat menghasilkan peradaban baru sesuai dengan harapan reformasi. Untuk ini, dapat dipakai teori, model, strategi pengajaran multietnik sebagai sarana menjalankan reformasi pendidikan dan kebudayaan (lihat Wakhinudin, 2006). Implementasi strategi pengajaran multietnik di kelas hendaklah bertujuan pembentukan peradaban bangsa Indonesia yang mulia. Sampai saat ini, pengajaran multietnik belum dilegalisasikan oleh pemerintah. Pengajaran bahasa daerah dilaksanakan dalam format restorasi (menjaga bahasa/budaya dari kepunahan) dan bukan dalam format pluralisme (mengakui perbedaan bahasa). Dengan format tersebut, pengajaran bahasa daerah lebih terkesan otoriter dan cenderung mengabaikan fakta keragaman etnik di dalam kelas.
c.    Pengangguran
Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok permasalahan ekonomi makro. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif dan bukannya negatif. Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi mencerminkan stabilitas harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang dan jasa. Inflasi juga sangat berkaitan dengan purchasing power atau daya beli dari masyarakat. Sedangkan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada upah riil. Inflasi sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kenaikan harga dibarengi dengan kenaikan upah riil. Masalah ketiga adalah pengangguran. Memang masalah pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Negara berkembang seringkali dihadapkan dengan besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk. Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Masalah pengangguran itu sendiri tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang namun juga dialami oleh negara-negara maju. Namun masalah pengangguran di negara-negara maju jauh lebih mudah terselesaikan daripada di negara-negara berkembang karena hanya berkaitan dengan pasang surutnya business cycle dan bukannya karena faktor kelangkaan investasi, masalah ledakan penduduk, ataupun masalah sosial politik di negara tersebut.
Sedangkan solusi untuk mengatasi pengangguran yang dapat ditempuh, antara lain:
1.      Ada atau tersedianya lapangan kerja disebabkan oleh adanya pertumbuhan ekonomi karena setiap pertumbuhan ekonomi satu persen(1%) akan memicu terserapnya 400.000 orang tenaga kerja.
2.      Dibutuhkannya Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri adalah kesempatan emas terciptanya peluang untuk bekerja.
3.      Ekspansi usaha. Ekspansi usaha tidak dilakukan begitu saja. Salah satu penyebabnya adalah adanya efisiensi dan efektivitas usaha yang tinggi.
4.    Adanya jaminan tidak ada Pemutusan Hubungan Kerja.
4.    Permasalahan generasi muda
Lebih dari separuh jumlah penduduk indonesia berusia di bawah 19 tahun. Dalam keadaan seperti ini nampak jelas bahwa masalah generasi muda bukanlah masalah dalam lingkup kecil dan terbatas. Generasi muda saat ini menempati posisi yang strategis dan khas karena merekalah yang paling terkena oleh perkembangan zaman, dan pastilah mereka akan terlibat dalam arus zaman tersebut.
Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini, antara lain sebagai berikut:
a.  Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk jiwa pemuda.
b.  Kurangnya kepastian yang dialami oleh pemuda terhadap masa depannya.
c. Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia.
d.  Kurangnya lapangan dan kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran di kalangan generasi muda sehingga menurunnya tingkat produktivitas.
Dan dalam hal ini perlu adanya pembinaan dan pengembangan generasi muda, yang meliputi dua pengertian pokok, yaitu:
a.    Generasi muda sebagai subjek pembinaan dan pengembangan yang bertujuan untuk melibatkannya dalam menyelsaikan permasalah yang ada.
b.    Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan yang bertujan untuk melatih dan mendidik para generasi muda supaya bisa mandiri dan berkembang.
5.    Stereotip peran gender,
Myers (2002) menjelaskan bahwa stereotip adalah suatu bentuk keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok tentang atribut personal yang ada pada suatu kelompok tertentu. Dalam kehidupan sosial nyata, stereotip peran gender dalam kehidupan masyarakat sebagai sebuah bentuk keyakinan sering bersifat tidak akura, generalisasi berlebihan dan memberikan penolakan terhadap keberadaan atribut sebuah kelompok yang berlawanan dengan keyakinan awal. Contoh fenomena stereotip peran gender adalah seorang pemimpin yang berhasil di Indonesia seringkali diidentikkan dengan peran laki-laki. Dalam kenyataan masa milennium, stereotip peran gender berhasil identik dengan laki-laki perlu dipertanyakan karena banyak pemimpin perempuan di indonesia terbukti cukup berhasil melaksanakan tugas kepemimpinannya di berbagai bidang, seperti bidang pemerintahan, bisnis, maupun pendidikan.
Dalam upaya untuk mencapai kesetaraan gender dapat dilakukan dengan melalui proses rekayasa sosialisasi atau resosialisasi pemahaman masyarakattentang eksistensi peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang lebih seimbang. Keseimbangan itu diperlukan agar tercapai tujuan kemitraan koperatif antara gender laki-laki dan perempuan.
6.    Masyarakat Modern,
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Masyarakat adalah pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu). Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Jadi masyarakat modern berarti suatu himpunan yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.
    Menurut Deliar Noer ada 5 ciri-ciri masyarakat modern sebagai berikut :
1.    Bersifat rasional,
2.    Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh,
3.    Menghargai waktu,
4.    Bersikap terbuka,
5.    Berpikir objektf.
Dalam pada itu, Alfin Toffler, sebagai dikemukakan oleh Jalaludin Rahmat, membagi masyarakat ke dalam tiga bagian. Yaitu masyarakat pertanian (Agricultural Society), masyarakat industri (Industrial Society), dan masyarakat infomasi (Informatical Society).
Masyarakat pertanian, ekonominya bertumpu pada tanah /sumber alam. Teknologi yang digunakan adalah teknologi kecil seperti pompa penyemprot hama, racun tikus, dan sebagainya. Informasi yang mereka gunakan adalah media tradisional, dari mulut ke mulut, bersifat lokal, dan informasi terpusat pada salah seorang yang dianggap tokoh. Dari segi kejiwaan, mereka banyak menggunakan kekuatan yang bersifat irrasional, seperti penanganan masalah dengan cara pergi ke dukun.
Selanjutnya masyarakat industri berbeda dengan masyarakat pertanian. Modal dasar berupa peralatan produksi dan mesin-mesin produksi. Teknologi yang digunakan adalah teknologi tinggi. Informasi yang mereka gunakan sudah menggunakan media cetak atau tulisan yang dapat disimpan oleh siapa saja. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan berpikir untuk hidup secara makmur dalam bidang materi.
Yang ketiga adalah masyarakat informasi, yang paling menentukan dalam masyarakat informasi adalah orang-orang yang paling banyak memiliki informasi. Dari segi teknologi, masarakat informasi menggunakan teknologi elektronika. Penggunaan teknologi elektronika telah mengubah lingkungan informasi dari yang bersifat lokal dan nasional kepada lingkungan yang bersifat internasional, mendunia, dan global. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang serba ingin tahu, mampu menjelaskan, dan imajinatif.
7.    Problematika Masyarakat Modern,
Kemajuan di bidang teknologi pada zaman modern ini telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah (positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif).
Efek positifnya tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan. Misalnya penggunaan teknologi kontrasepsi dapat menyebabkan orang dengan mudah dapat melakukan hubungan seksual tanpa harus takut hamil atau berdosa. Jaringan-jaringan peredaran obat-obat terlarang, tukar menukar informasi, penyaluran data-data film yang berbau pornografi di bidang teknologi komunikasi seperti komputer, faximile, internete, dan sebagainya akan semakin intensif pelaksanaannya.
Hal tersebut di atas adalah gambaran-gambaran masyarakat modern yang obsesi keduniaannya tampak lebih dominan ketimbang spritual. Kemajuan teknologi sains dan segala hal yang bersifat duniawi jarang disertai dengan nilai spiritual.
•          Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuaannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual. Jika hal tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa. Semua itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba hidup dengan alam yang kasat mata.
•           Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti pelacur, mereka menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan dirinya tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Nashr melihat, kondisi manusia modern sekarang mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar dan bersifat spiritual, mereka gagal menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak ada keseimbangan dalam diri. Hal ini akan semakin parah apabila tekanannya pada kebutuhan materi semakin meningkat sehingga keseimbangan semakin rusak. Oleh karena itu, manusia memerlukan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya. Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran iptek telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern, sebagai berikut :
1.    Desintegrasi ilmu pengetahuan
2.    Kepribadian yang Terpecah
3.    Penyalahgunaan Iptek
4.    Pendangkalan Iman
5.    Pola Hubungan Materialistis
6.    Menghalalkan Segala Cara
7.    Stres dan Frustasi
8.    Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya
9.    Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf
BAB, III.
8.    PENUTUP
 KRITIK    DAN    SARAN :
 Ajaran dalam tasawuf memberikan solusi bagi kita untuk menghadapi krisis-krisis dunia. Seperti ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan manusia memiliki pegangan yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya pada Tuhan. Selanjutnya sikap frustasi dapat diatasi dengan sikap ridla. Yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Dengan ini maka selesai sudahlah karya kami yang berjudulkan “ problematika kehidupan sosial masyarakat dan kaitannya dengan islam serta upaya penanggulanggannya” . dan tiadalah sempurna karya ini bila anda tidak memberikan keritik dan saran anda karna kemasukan sejenis apapun dari anda akan membuat kami lebih baik untuk menyusun karya-karya ilmiah di episode selanjutnya.
wassalamualaikum Wr, Wb.
Diposkan:
PUKUL: 08-3,  WIB
Tgl: 29-10-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar