Perbedaan Manusia dan Binatang
Yang membedakan manusia dengan spesies lain dibumi ini bukan terletak pada kemampuan manusia untuk merasa, untuk mencintai dan dicintai, bukan juga nilai-nilai moral dan etika manusia, apalagi karena ide-ide kreatif manusia dan kebutuhan manusia untuk berkelompok sebagai mahluk sosial. Di alam sekitar dan kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh bahwa manusia kalah dengan binatang.
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
Kemampuan membuat api mungkin adalah penemuan manusia yang paling penting dalam sejarah umat manusia, api membuat manusia mampu untuk memasak, menghangatkan diri dimusim dingin, meningkatkan standar kesehatan, mengolah logam yang kemudian membawa pengaruh besar dalam jalannya sejarah planet bumi.
Banyak sekali contoh peradaban manusia yang runtuh karena gagal mengadopsi teknologi atau gagal menemukan teknologi yang lebih maju seperti inca, maya, mesir, yunani, kesultanan turki, kerajaan sungai indus dan lain-lain. Menolak teknologi adalah bunuh diri.
Seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia, siapa yang menguasai teknologi pengolahan logam, dialah bangsa yang berjaya. Semula memakai pisau dari batu kemudian penemuan cara pengelolaan logam seperti perunggu dan besi membuat teknologi batu tidak berarti. Dan sekarang penguasaan teknologi nuklir (plutonium) menjadi bangsa yang mampu menguasainya menjadi super power.
Menolak ilmu pengetahuan, menghambat penyebaran ilmu pengtahuan dan kemajuan teknologi adalah dosa karena Sang Pencipta tidak akan menciptakan otak dikepala manusia sebagai hiasan bila Dia tidak ingin manusia memakainya untuk perbuatan baik.
Para filosof Barat menyatakan bahwa hakikat manusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak. Karena itu mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berpikir dan berakal. Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain; yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan punya akhlak. Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang: merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat daripada binatang. Kata seorang hukama. Ia juga menambahkan bahwa sifat dasar makhluk adalah al-qassatul qalbu (keras hati), al-qilla'ul haya (tak punya malu), dan al-istighalu bi uyubil khalqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). Tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain karena agama.
Perbedaan Manusia dan Binatang
Yang membedakan manusia dengan spesies lain dibumi ini bukan terletak pada kemampuan manusia untuk merasa, untuk mencintai dan dicintai, bukan juga nilai-nilai moral dan etika manusia, apalagi karena ide-ide kreatif manusia dan kebutuhan manusia untuk berkelompok sebagai mahluk sosial.
Di alam sekitar dan kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh bahwa manusia kalah dengan binatang.
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
Kemampuan membuat api mungkin adalah penemuan manusia yang paling penting dalam sejarah umat manusia, api membuat manusia mampu untuk memasak, menghangatkan diri dimusim dingin, meningkatkan standar kesehatan, mengolah logam yang kemudian membawa pengaruh besar dalam jalannya sejarah planet bumi.
Banyak sekali contoh peradaban manusia yang runtuh karena gagal mengadopsi teknologi atau gagal menemukan teknologi yang lebih maju seperti inca, maya, mesir, yunani, kesultanan turki, kerajaan sungai indus dan lain-lain. Menolak teknologi adalah bunuh diri.
Seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia, siapa yang menguasai teknologi pengolahan logam, dialah bangsa yang berjaya. Semula memakai pisau dari batu kemudian penemuan cara pengelolaan logam seperti perunggu dan besi membuat teknologi batu tidak berarti. Dan sekarang penguasaan teknologi nuklir (plutonium) menjadi bangsa yang mampu menguasainya menjadi super power.
BEDA MANUSIA DENGAN BINATANG
Para filosof Barat mengatakan bahwa hakikatnyamanusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak . karena itu, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berfikir dan berakal.
Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain,yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan akhlak. Seorang hukama berkata “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang; merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat dari binatang.”
Beliau juga menambahkan, bahwa sifat dasar makhluk adalah alqassatul qalbu (keras hati), alqilla’ul haya (tak hanya punya malu) dan al-istighalu bi uyubil khalaqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). “tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”
Hakikat Manusia Menurut Islam
Ruh Akal → Ilmu Ibadah
Manusia Jasad → Amal Amanah Balasan
Tanah Hati → Tekad Memimpin
(Unsur) (Potensi)Siapakah Manusia
Para ahli mendefinisikan makna manusia berdasarkan metodologi yang digunakan dan filosofi yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa teori hasil pemikiran manusia:
o Teori Psikoanalisis: manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan) yang memiliki perilaku interaksi antar komponen biologis (Id), psikologis (ego) dan sosial (super ego). Menurut teori ini, didalam diri manusia ada unsur hewani, rasional dan moral
o Teori Behaviorisme: manusia sebagai homo mechanicus (manusia mesin) yang timbul dari reaksi terhadap introspeksionisme (analisis jiwa berdasarkan laporan subjektif) dan psikoanalisis (tentang alam bawah sadar yang tak tampak). Behavior menganalisis perilaku yang nampak saja dan segala tingkah laku terbentuk dari proses pembelajaran terhadap lingkungan, bukan dari aspek rasional dan emosional
o Teori kognitif: manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir) yang berusaha memahami lingkungan
o Teori Humanisme: manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Aliran ini mengecam teori psikoanalisis dan behaviorisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia dan kedua teori itu tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif yang menentukan cinta, kreativitas, nilai, makna dan pertumbuhan pribadi
Sebagaimana yang telah tercantum dalam al Qur’an surat Al Hijr ayat 28, manusia diciptakan oleh Allah SWT dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam. Dalam surat Al Mu’min ayat 67 juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang bercampur dengan setetes air mani. Kemudian berkembang menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging dan mengalami pertumbuhan serta perkembangan.
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan...”_ QS Al Hajj, 22: 5
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”_ QS Al Insaan, 76: 2
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba mereka menjadi pembantah yang nyata.”_ QS An Nahl, 16: 4
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” _ QS Al Baqoroh, 2: 21
Di dalam Al Qur’an, akal diartikan sebagai kebijaksanaan (wisdom), intelegensia dan pengertian. Musa Asyari (1992) menyebut al Qalb dengan pengertian kasar/fisik yang berarti jantung dan sesuatu yang bersifat menangkap pengertian, berpengetahuan dan arif. Jadi, akal digunakan untuk memikirkan alam dan qolbu berperan dalam mengingat Tuhan.
Nafs (bahasa Arab: al Hawa) berarti kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginan. Manusia harus menggunakan akal untuk mengendalikan nafsu agar dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada pada jalur yang ditunjukkan diin disebut an Nafs Muthmainnah. Manusia ideal mampu menjaga fitrah atau hanif-nya dan mampu mengelola serta memadukan potensi akal, nafsu dan qolbu dengan harmonis.
Ibnu Sina yang terkenal dengan filsafat jiwa menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk ekonomi yang memikirkan, menyiapkan masa depan. Pandangan Murtadha Mutahhari (1984: 125-134): manusia adalah makhluk serba dimensi, yaitu mempunyai emosi yang bersifat etis atau ingin mendapat keuntungan yang besar dan menghindari kerugian, memiliki perhatian terhadap keindahan, memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan dan punya kemampuan serta kekuatan yang berlipat ganda.
Adapun karakteristik manusia mencakup aspek:
a. Kreasi atau penciptaan manusia yang terbaik dan sempurn, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” _ QS at Tin, 95: 4
b. Ilmu (knowledge). Manusia berkesempatan untuk memahami hakekat alam semesta. Manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang sedangkan hewan terbatas pada naluri dasar yang tidak bisa di kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran
c. Kehendak manusia yang bisa mengadakan pilihan dalam hidup
d. Pengarahan akhlak. Jika manusia hidup dengan ilmu selain ilmu Allah, maka manusia tidak bermatabat lagi
B. Persamaan dan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain
Persamaan manusia dan hewan adalah memiliki hasrat atau nafsu dan diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk menyembah atau menaati ketentuan Allah dan menghindari yang Allah larang. Adapun perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah:
o Manusia memiliki potensi untuk melahirkan kebudayaan
o Pergerakan manusia lebih luas dibanding makhluk lain, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” _ QS Al Isra’, 17: 70
o Hewan hanya mempunyai kebiasaan yang bersifat instinctive
o Manusia memiliki akal dan hati
o Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” _ QS at Tin, 95: 4
o Manusia memiliki martabat yang mulia, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” _ QS Al An’am, 6: 165
C. Tujuan Penciptaan Manusia
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” QS Az Zaariyat, 51:56
Penyembahan berarti ketundukan pada hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di bumi, baik ibadah yang menyangkut hubungan vertikal (habluminallah/manusia dengan Allah) atau horizontal (habluminannas/ manusia dengan manusia serta makhluk lainnya). Keseimbangan dapat terjaga jika hukum-hukum kemanusiaan yang telah Allah tetapkan berdiri dengan tegak.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” _ QS al Bayyinah, 98: 5
D. Fungsi dan Peranan Manusia
“Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".” _ QS Al Baqoroh, 2: 30
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”_ QS Ali Imran, 3: 104
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” _ QS Ali Imran, 3: 110
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_QS Al Hujurat, 49: 13
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”_ 4:1
Peran manusia adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan membudayakan ajaran Allah, misalnya:
o Belajar (Surat an Naml, 27: 15-16; Surat Al Alaq dan al Mu’min, 40: 54). Objek belajar adalah ilmu Allah yang berwujud al Qur’an dan ciptaan-Nya
o Mengajarkan ilmu (QS Al Baqoroh, 2: 31-39). Ilmu Allah adalah al Qur’an dan al Bayan (ilmu pengetahuan). Al Qur’an berisi tentang aturan hidup dan kehidupan manusia serta hal-hal yang berhubungan dengan manusia
o Membudayakan ilmu (al Mu’min, 40: 35). Ilmu harus diamalkan. Wujud pembudayaan ilmu adalah tercapainya pola hidup dan kehidupan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, sunnah Rasul adalah contoh perwujudan dari pembudayaan ilmu
Perbedaan Manusia dengan Hewan atau Binatang – Tugas AIK
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
***
Pertama, manusia makhluk paling sempurna. Selain fisik, manusia memiliki keunggulan akal. Manusia memiliki akal kreatif, inovatif dan konstruktif sedang binatang tidak. Binatang tidak dapat menggunakan otaknya untuk berfikir atau belajar dan menangkap kebenaran laiknya manusia.
Kedua, manusia harus belajar. Allah menganugerahkan hati dan akal untuk belajar. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan serta mengambil hikmah dalam berbagai peristiwa kehidupan. Manusialah yang harus menuntut ilmu untuk melaksanakan berbagai tugas kehidupan. Malalui proses belajar, manusia dapat memajukan kehidupannya, dari primitive menuju kehidupan beradab dan berbudaya.
Ketiga, manusia adalah Abdullah. Tugas utama manusia adalah untuk mengabdi atau menjadi hamba-Nya dengan penuh tunduk dan taat sepenuhnya. Inilah kehendak Allah ketika menciptakan jin dan manusia. Ibadah adalah tugas utama manusia. Baik, ibadah hablun minallah maupun ibadah hablun manannas. Kepada-Nya seorang hamba berikrar,”Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in!”
Keempat, manusia adalah khalifah. Khalifah artinya wakil Allah di bumi. Khafifah juga berarti pemimpin. Tugas sebagai khafifah adalah tugas berat namun mulia. Sebagai khafifah, manusia mengemban amanah memakmurkan bumi, menciptakan perdamaian, ketrentraman, dan kesejahteraan hidup. Sebagai khafifah, Allah menciptakan manusia setara. Hanya ketakwaan yang membedakan dari lainnya.
Kelima, manusia adalah makhluk labil. Selain, memiliki akal, manusia memiliki nafsu. Dengan akal manusia bisa melakukan perbuatan terpuji dan mulia. Tetapi dengan nafsu, manusia bisa berbuat anarki, merusak dan merugikan kehidupan. Dengan hidayah manusia bisa berbuat mulia. Tanpa hidayah, manusia hanya jadi budak nafsu. Alqur’an menyebut ada yang menjadikan nafsu sebagai Tuhannya.
Keenam, manusia dicipta untuk hidup di dua alam: dunia dan akherat. Di dunia manusia akan hidup sebentar. Dunia adalah lading amal. Akherat lebih kekal dan lebih baik. Bila baik amal dunianya, insya Allah baik akheratnya, Syurgalah tempatnya. Bila buruk dunianya, buruk pulalah akhirnya. Nerakalah ganjarannya.
Ketujuh, amal manusia dihitung. Perbuatan binatang tidak dihitung. Sekecil apa pun kebaikan manusia, Allah akan memberikan pahala. Demikian pula sekecil apa pun keburukannya, Allah akan memberikan sanksi. Takl satupun yang dirugikan. Allah Maha Adil, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Kedelapan, manusia harus bekerja. Allah menganugrahkan organ sempurna agar manusia bekerja dan berkarya. Dengan bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhan hidup dan memenuhi kewajiban social dengan penuh tanggung jawab. Bekerja adalah salah satu pintu kemuliaan manusia.
Kesembilan, manusia makhluk beragama. Dengan agama manusia menemukan dan mengabdi kepada Tuhan dengan benar. Dengan agama hidip manusia menjadi bermakna. Dengan agama, manusia yakin kepada Nabi dan Rasul-Nya, serta adanya Hari Akhir. Tentu hanya Islam agama yang dapat menjelaskan dan meyakinkan itu semua. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
Kesepuluh, manusia makhluk berbudaya. Manusia adalah makhluk kreatif, inovatif dan konstruktif yang mampu membangun pereradaban. Sejarah mencatat peradaban manusia sebagai kerya gemilang. Peradaban adalah mozaik budaya manusia yang dibangun berkat kecerdasan manusia. Jadi, sungguh berbeda memang manusia dengan binatang. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebutkan tidak sedikit manusia bergaya seperti binatang, bahkan lebih buruk lagi dari itu. Mereka tidak dapat membangun sepuluh keunggulan yang mampu diraih oleh setiap manusia.
(Sumber: Lazismu Edisi 15, Pebruari 2009)
***
Para filosof Barat mengatakan bahwa hakikatnyamanusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak . karena itu, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berfikir dan berakal.
Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain,yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan akhlak. Seorang hukama berkata “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang; merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat dari binatang.”
Beliau juga menambahkan, bahwa sifat dasar makhluk adalah alqassatul qalbu (keras hati), alqilla’ul haya (tak hanya punya malu) dan al-istighalu bi uyubil khalaqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). “tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”
Perbedaan Manusia dan Binatang
Yang membedakan manusia dengan spesies lain dibumi ini bukan terletak pada kemampuan manusia untuk merasa, untuk mencintai dan dicintai, bukan juga nilai-nilai moral dan etika manusia, apalagi karena ide-ide kreatif manusia dan kebutuhan manusia untuk berkelompok sebagai mahluk sosial. Di alam sekitar dan kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh bahwa manusia kalah dengan binatang.
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
Kemampuan membuat api mungkin adalah penemuan manusia yang paling penting dalam sejarah umat manusia, api membuat manusia mampu untuk memasak, menghangatkan diri dimusim dingin, meningkatkan standar kesehatan, mengolah logam yang kemudian membawa pengaruh besar dalam jalannya sejarah planet bumi.
Banyak sekali contoh peradaban manusia yang runtuh karena gagal mengadopsi teknologi atau gagal menemukan teknologi yang lebih maju seperti inca, maya, mesir, yunani, kesultanan turki, kerajaan sungai indus dan lain-lain. Menolak teknologi adalah bunuh diri.
Seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia, siapa yang menguasai teknologi pengolahan logam, dialah bangsa yang berjaya. Semula memakai pisau dari batu kemudian penemuan cara pengelolaan logam seperti perunggu dan besi membuat teknologi batu tidak berarti. Dan sekarang penguasaan teknologi nuklir (plutonium) menjadi bangsa yang mampu menguasainya menjadi super power.
Menolak ilmu pengetahuan, menghambat penyebaran ilmu pengtahuan dan kemajuan teknologi adalah dosa karena Sang Pencipta tidak akan menciptakan otak dikepala manusia sebagai hiasan bila Dia tidak ingin manusia memakainya untuk perbuatan baik.
Para filosof Barat menyatakan bahwa hakikat manusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak. Karena itu mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berpikir dan berakal. Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain; yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan punya akhlak. Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang: merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat daripada binatang. Kata seorang hukama. Ia juga menambahkan bahwa sifat dasar makhluk adalah al-qassatul qalbu (keras hati), al-qilla'ul haya (tak punya malu), dan al-istighalu bi uyubil khalqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). Tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain karena agama.
Perbedaan Manusia dan Binatang
Yang membedakan manusia dengan spesies lain dibumi ini bukan terletak pada kemampuan manusia untuk merasa, untuk mencintai dan dicintai, bukan juga nilai-nilai moral dan etika manusia, apalagi karena ide-ide kreatif manusia dan kebutuhan manusia untuk berkelompok sebagai mahluk sosial.
Di alam sekitar dan kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh bahwa manusia kalah dengan binatang.
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
Kemampuan membuat api mungkin adalah penemuan manusia yang paling penting dalam sejarah umat manusia, api membuat manusia mampu untuk memasak, menghangatkan diri dimusim dingin, meningkatkan standar kesehatan, mengolah logam yang kemudian membawa pengaruh besar dalam jalannya sejarah planet bumi.
Banyak sekali contoh peradaban manusia yang runtuh karena gagal mengadopsi teknologi atau gagal menemukan teknologi yang lebih maju seperti inca, maya, mesir, yunani, kesultanan turki, kerajaan sungai indus dan lain-lain. Menolak teknologi adalah bunuh diri.
Seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia, siapa yang menguasai teknologi pengolahan logam, dialah bangsa yang berjaya. Semula memakai pisau dari batu kemudian penemuan cara pengelolaan logam seperti perunggu dan besi membuat teknologi batu tidak berarti. Dan sekarang penguasaan teknologi nuklir (plutonium) menjadi bangsa yang mampu menguasainya menjadi super power.
BEDA MANUSIA DENGAN BINATANG
Para filosof Barat mengatakan bahwa hakikatnyamanusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak . karena itu, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berfikir dan berakal.
Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain,yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan akhlak. Seorang hukama berkata “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang; merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat dari binatang.”
Beliau juga menambahkan, bahwa sifat dasar makhluk adalah alqassatul qalbu (keras hati), alqilla’ul haya (tak hanya punya malu) dan al-istighalu bi uyubil khalaqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). “tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”
Hakikat Manusia Menurut Islam
Ruh Akal → Ilmu Ibadah
Manusia Jasad → Amal Amanah Balasan
Tanah Hati → Tekad Memimpin
(Unsur) (Potensi)Siapakah Manusia
Para ahli mendefinisikan makna manusia berdasarkan metodologi yang digunakan dan filosofi yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa teori hasil pemikiran manusia:
o Teori Psikoanalisis: manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan) yang memiliki perilaku interaksi antar komponen biologis (Id), psikologis (ego) dan sosial (super ego). Menurut teori ini, didalam diri manusia ada unsur hewani, rasional dan moral
o Teori Behaviorisme: manusia sebagai homo mechanicus (manusia mesin) yang timbul dari reaksi terhadap introspeksionisme (analisis jiwa berdasarkan laporan subjektif) dan psikoanalisis (tentang alam bawah sadar yang tak tampak). Behavior menganalisis perilaku yang nampak saja dan segala tingkah laku terbentuk dari proses pembelajaran terhadap lingkungan, bukan dari aspek rasional dan emosional
o Teori kognitif: manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir) yang berusaha memahami lingkungan
o Teori Humanisme: manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Aliran ini mengecam teori psikoanalisis dan behaviorisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia dan kedua teori itu tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif yang menentukan cinta, kreativitas, nilai, makna dan pertumbuhan pribadi
Sebagaimana yang telah tercantum dalam al Qur’an surat Al Hijr ayat 28, manusia diciptakan oleh Allah SWT dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam. Dalam surat Al Mu’min ayat 67 juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang bercampur dengan setetes air mani. Kemudian berkembang menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging dan mengalami pertumbuhan serta perkembangan.
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan...”_ QS Al Hajj, 22: 5
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”_ QS Al Insaan, 76: 2
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba mereka menjadi pembantah yang nyata.”_ QS An Nahl, 16: 4
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” _ QS Al Baqoroh, 2: 21
Di dalam Al Qur’an, akal diartikan sebagai kebijaksanaan (wisdom), intelegensia dan pengertian. Musa Asyari (1992) menyebut al Qalb dengan pengertian kasar/fisik yang berarti jantung dan sesuatu yang bersifat menangkap pengertian, berpengetahuan dan arif. Jadi, akal digunakan untuk memikirkan alam dan qolbu berperan dalam mengingat Tuhan.
Nafs (bahasa Arab: al Hawa) berarti kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginan. Manusia harus menggunakan akal untuk mengendalikan nafsu agar dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada pada jalur yang ditunjukkan diin disebut an Nafs Muthmainnah. Manusia ideal mampu menjaga fitrah atau hanif-nya dan mampu mengelola serta memadukan potensi akal, nafsu dan qolbu dengan harmonis.
Ibnu Sina yang terkenal dengan filsafat jiwa menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk ekonomi yang memikirkan, menyiapkan masa depan. Pandangan Murtadha Mutahhari (1984: 125-134): manusia adalah makhluk serba dimensi, yaitu mempunyai emosi yang bersifat etis atau ingin mendapat keuntungan yang besar dan menghindari kerugian, memiliki perhatian terhadap keindahan, memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan dan punya kemampuan serta kekuatan yang berlipat ganda.
Adapun karakteristik manusia mencakup aspek:
a. Kreasi atau penciptaan manusia yang terbaik dan sempurn, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” _ QS at Tin, 95: 4
b. Ilmu (knowledge). Manusia berkesempatan untuk memahami hakekat alam semesta. Manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang sedangkan hewan terbatas pada naluri dasar yang tidak bisa di kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran
c. Kehendak manusia yang bisa mengadakan pilihan dalam hidup
d. Pengarahan akhlak. Jika manusia hidup dengan ilmu selain ilmu Allah, maka manusia tidak bermatabat lagi
B. Persamaan dan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain
Persamaan manusia dan hewan adalah memiliki hasrat atau nafsu dan diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk menyembah atau menaati ketentuan Allah dan menghindari yang Allah larang. Adapun perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah:
o Manusia memiliki potensi untuk melahirkan kebudayaan
o Pergerakan manusia lebih luas dibanding makhluk lain, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” _ QS Al Isra’, 17: 70
o Hewan hanya mempunyai kebiasaan yang bersifat instinctive
o Manusia memiliki akal dan hati
o Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” _ QS at Tin, 95: 4
o Manusia memiliki martabat yang mulia, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” _ QS Al An’am, 6: 165
C. Tujuan Penciptaan Manusia
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” QS Az Zaariyat, 51:56
Penyembahan berarti ketundukan pada hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di bumi, baik ibadah yang menyangkut hubungan vertikal (habluminallah/manusia dengan Allah) atau horizontal (habluminannas/ manusia dengan manusia serta makhluk lainnya). Keseimbangan dapat terjaga jika hukum-hukum kemanusiaan yang telah Allah tetapkan berdiri dengan tegak.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” _ QS al Bayyinah, 98: 5
D. Fungsi dan Peranan Manusia
“Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".” _ QS Al Baqoroh, 2: 30
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”_ QS Ali Imran, 3: 104
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” _ QS Ali Imran, 3: 110
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_QS Al Hujurat, 49: 13
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”_ 4:1
Peran manusia adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan membudayakan ajaran Allah, misalnya:
o Belajar (Surat an Naml, 27: 15-16; Surat Al Alaq dan al Mu’min, 40: 54). Objek belajar adalah ilmu Allah yang berwujud al Qur’an dan ciptaan-Nya
o Mengajarkan ilmu (QS Al Baqoroh, 2: 31-39). Ilmu Allah adalah al Qur’an dan al Bayan (ilmu pengetahuan). Al Qur’an berisi tentang aturan hidup dan kehidupan manusia serta hal-hal yang berhubungan dengan manusia
o Membudayakan ilmu (al Mu’min, 40: 35). Ilmu harus diamalkan. Wujud pembudayaan ilmu adalah tercapainya pola hidup dan kehidupan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, sunnah Rasul adalah contoh perwujudan dari pembudayaan ilmu
Perbedaan Manusia dengan Hewan atau Binatang – Tugas AIK
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
***
Pertama, manusia makhluk paling sempurna. Selain fisik, manusia memiliki keunggulan akal. Manusia memiliki akal kreatif, inovatif dan konstruktif sedang binatang tidak. Binatang tidak dapat menggunakan otaknya untuk berfikir atau belajar dan menangkap kebenaran laiknya manusia.
Kedua, manusia harus belajar. Allah menganugerahkan hati dan akal untuk belajar. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan serta mengambil hikmah dalam berbagai peristiwa kehidupan. Manusialah yang harus menuntut ilmu untuk melaksanakan berbagai tugas kehidupan. Malalui proses belajar, manusia dapat memajukan kehidupannya, dari primitive menuju kehidupan beradab dan berbudaya.
Ketiga, manusia adalah Abdullah. Tugas utama manusia adalah untuk mengabdi atau menjadi hamba-Nya dengan penuh tunduk dan taat sepenuhnya. Inilah kehendak Allah ketika menciptakan jin dan manusia. Ibadah adalah tugas utama manusia. Baik, ibadah hablun minallah maupun ibadah hablun manannas. Kepada-Nya seorang hamba berikrar,”Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in!”
Keempat, manusia adalah khalifah. Khalifah artinya wakil Allah di bumi. Khafifah juga berarti pemimpin. Tugas sebagai khafifah adalah tugas berat namun mulia. Sebagai khafifah, manusia mengemban amanah memakmurkan bumi, menciptakan perdamaian, ketrentraman, dan kesejahteraan hidup. Sebagai khafifah, Allah menciptakan manusia setara. Hanya ketakwaan yang membedakan dari lainnya.
Kelima, manusia adalah makhluk labil. Selain, memiliki akal, manusia memiliki nafsu. Dengan akal manusia bisa melakukan perbuatan terpuji dan mulia. Tetapi dengan nafsu, manusia bisa berbuat anarki, merusak dan merugikan kehidupan. Dengan hidayah manusia bisa berbuat mulia. Tanpa hidayah, manusia hanya jadi budak nafsu. Alqur’an menyebut ada yang menjadikan nafsu sebagai Tuhannya.
Keenam, manusia dicipta untuk hidup di dua alam: dunia dan akherat. Di dunia manusia akan hidup sebentar. Dunia adalah lading amal. Akherat lebih kekal dan lebih baik. Bila baik amal dunianya, insya Allah baik akheratnya, Syurgalah tempatnya. Bila buruk dunianya, buruk pulalah akhirnya. Nerakalah ganjarannya.
Ketujuh, amal manusia dihitung. Perbuatan binatang tidak dihitung. Sekecil apa pun kebaikan manusia, Allah akan memberikan pahala. Demikian pula sekecil apa pun keburukannya, Allah akan memberikan sanksi. Takl satupun yang dirugikan. Allah Maha Adil, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Kedelapan, manusia harus bekerja. Allah menganugrahkan organ sempurna agar manusia bekerja dan berkarya. Dengan bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhan hidup dan memenuhi kewajiban social dengan penuh tanggung jawab. Bekerja adalah salah satu pintu kemuliaan manusia.
Kesembilan, manusia makhluk beragama. Dengan agama manusia menemukan dan mengabdi kepada Tuhan dengan benar. Dengan agama hidip manusia menjadi bermakna. Dengan agama, manusia yakin kepada Nabi dan Rasul-Nya, serta adanya Hari Akhir. Tentu hanya Islam agama yang dapat menjelaskan dan meyakinkan itu semua. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
Kesepuluh, manusia makhluk berbudaya. Manusia adalah makhluk kreatif, inovatif dan konstruktif yang mampu membangun pereradaban. Sejarah mencatat peradaban manusia sebagai kerya gemilang. Peradaban adalah mozaik budaya manusia yang dibangun berkat kecerdasan manusia. Jadi, sungguh berbeda memang manusia dengan binatang. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebutkan tidak sedikit manusia bergaya seperti binatang, bahkan lebih buruk lagi dari itu. Mereka tidak dapat membangun sepuluh keunggulan yang mampu diraih oleh setiap manusia.
(Sumber: Lazismu Edisi 15, Pebruari 2009)
***
Para filosof Barat mengatakan bahwa hakikatnyamanusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak . karena itu, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berfikir dan berakal.
Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain,yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan akhlak. Seorang hukama berkata “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang; merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat dari binatang.”
Beliau juga menambahkan, bahwa sifat dasar makhluk adalah alqassatul qalbu (keras hati), alqilla’ul haya (tak hanya punya malu) dan al-istighalu bi uyubil khalaqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). “tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”
Perbedaan Manusia dan Binatang
Yang membedakan manusia dengan spesies lain dibumi ini bukan terletak pada kemampuan manusia untuk merasa, untuk mencintai dan dicintai, bukan juga nilai-nilai moral dan etika manusia, apalagi karena ide-ide kreatif manusia dan kebutuhan manusia untuk berkelompok sebagai mahluk sosial. Di alam sekitar dan kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh bahwa manusia kalah dengan binatang.
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
Kemampuan membuat api mungkin adalah penemuan manusia yang paling penting dalam sejarah umat manusia, api membuat manusia mampu untuk memasak, menghangatkan diri dimusim dingin, meningkatkan standar kesehatan, mengolah logam yang kemudian membawa pengaruh besar dalam jalannya sejarah planet bumi.
Banyak sekali contoh peradaban manusia yang runtuh karena gagal mengadopsi teknologi atau gagal menemukan teknologi yang lebih maju seperti inca, maya, mesir, yunani, kesultanan turki, kerajaan sungai indus dan lain-lain. Menolak teknologi adalah bunuh diri.
Seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia, siapa yang menguasai teknologi pengolahan logam, dialah bangsa yang berjaya. Semula memakai pisau dari batu kemudian penemuan cara pengelolaan logam seperti perunggu dan besi membuat teknologi batu tidak berarti. Dan sekarang penguasaan teknologi nuklir (plutonium) menjadi bangsa yang mampu menguasainya menjadi super power.
Menolak ilmu pengetahuan, menghambat penyebaran ilmu pengtahuan dan kemajuan teknologi adalah dosa karena Sang Pencipta tidak akan menciptakan otak dikepala manusia sebagai hiasan bila Dia tidak ingin manusia memakainya untuk perbuatan baik.
Para filosof Barat menyatakan bahwa hakikat manusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak. Karena itu mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berpikir dan berakal. Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain; yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan punya akhlak. Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang: merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat daripada binatang. Kata seorang hukama. Ia juga menambahkan bahwa sifat dasar makhluk adalah al-qassatul qalbu (keras hati), al-qilla'ul haya (tak punya malu), dan al-istighalu bi uyubil khalqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). Tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain karena agama.
Perbedaan Manusia dan Binatang
Yang membedakan manusia dengan spesies lain dibumi ini bukan terletak pada kemampuan manusia untuk merasa, untuk mencintai dan dicintai, bukan juga nilai-nilai moral dan etika manusia, apalagi karena ide-ide kreatif manusia dan kebutuhan manusia untuk berkelompok sebagai mahluk sosial.
Di alam sekitar dan kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh bahwa manusia kalah dengan binatang.
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
Kemampuan membuat api mungkin adalah penemuan manusia yang paling penting dalam sejarah umat manusia, api membuat manusia mampu untuk memasak, menghangatkan diri dimusim dingin, meningkatkan standar kesehatan, mengolah logam yang kemudian membawa pengaruh besar dalam jalannya sejarah planet bumi.
Banyak sekali contoh peradaban manusia yang runtuh karena gagal mengadopsi teknologi atau gagal menemukan teknologi yang lebih maju seperti inca, maya, mesir, yunani, kesultanan turki, kerajaan sungai indus dan lain-lain. Menolak teknologi adalah bunuh diri.
Seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia, siapa yang menguasai teknologi pengolahan logam, dialah bangsa yang berjaya. Semula memakai pisau dari batu kemudian penemuan cara pengelolaan logam seperti perunggu dan besi membuat teknologi batu tidak berarti. Dan sekarang penguasaan teknologi nuklir (plutonium) menjadi bangsa yang mampu menguasainya menjadi super power.
BEDA MANUSIA DENGAN BINATANG
Para filosof Barat mengatakan bahwa hakikatnyamanusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak . karena itu, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berfikir dan berakal.
Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain,yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan akhlak. Seorang hukama berkata “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang; merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat dari binatang.”
Beliau juga menambahkan, bahwa sifat dasar makhluk adalah alqassatul qalbu (keras hati), alqilla’ul haya (tak hanya punya malu) dan al-istighalu bi uyubil khalaqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). “tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”
Hakikat Manusia Menurut Islam
Ruh Akal → Ilmu Ibadah
Manusia Jasad → Amal Amanah Balasan
Tanah Hati → Tekad Memimpin
(Unsur) (Potensi)Siapakah Manusia
Para ahli mendefinisikan makna manusia berdasarkan metodologi yang digunakan dan filosofi yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa teori hasil pemikiran manusia:
o Teori Psikoanalisis: manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan) yang memiliki perilaku interaksi antar komponen biologis (Id), psikologis (ego) dan sosial (super ego). Menurut teori ini, didalam diri manusia ada unsur hewani, rasional dan moral
o Teori Behaviorisme: manusia sebagai homo mechanicus (manusia mesin) yang timbul dari reaksi terhadap introspeksionisme (analisis jiwa berdasarkan laporan subjektif) dan psikoanalisis (tentang alam bawah sadar yang tak tampak). Behavior menganalisis perilaku yang nampak saja dan segala tingkah laku terbentuk dari proses pembelajaran terhadap lingkungan, bukan dari aspek rasional dan emosional
o Teori kognitif: manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir) yang berusaha memahami lingkungan
o Teori Humanisme: manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Aliran ini mengecam teori psikoanalisis dan behaviorisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia dan kedua teori itu tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif yang menentukan cinta, kreativitas, nilai, makna dan pertumbuhan pribadi
Sebagaimana yang telah tercantum dalam al Qur’an surat Al Hijr ayat 28, manusia diciptakan oleh Allah SWT dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam. Dalam surat Al Mu’min ayat 67 juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang bercampur dengan setetes air mani. Kemudian berkembang menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging dan mengalami pertumbuhan serta perkembangan.
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan...”_ QS Al Hajj, 22: 5
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”_ QS Al Insaan, 76: 2
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba mereka menjadi pembantah yang nyata.”_ QS An Nahl, 16: 4
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” _ QS Al Baqoroh, 2: 21
Di dalam Al Qur’an, akal diartikan sebagai kebijaksanaan (wisdom), intelegensia dan pengertian. Musa Asyari (1992) menyebut al Qalb dengan pengertian kasar/fisik yang berarti jantung dan sesuatu yang bersifat menangkap pengertian, berpengetahuan dan arif. Jadi, akal digunakan untuk memikirkan alam dan qolbu berperan dalam mengingat Tuhan.
Nafs (bahasa Arab: al Hawa) berarti kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginan. Manusia harus menggunakan akal untuk mengendalikan nafsu agar dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada pada jalur yang ditunjukkan diin disebut an Nafs Muthmainnah. Manusia ideal mampu menjaga fitrah atau hanif-nya dan mampu mengelola serta memadukan potensi akal, nafsu dan qolbu dengan harmonis.
Ibnu Sina yang terkenal dengan filsafat jiwa menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk ekonomi yang memikirkan, menyiapkan masa depan. Pandangan Murtadha Mutahhari (1984: 125-134): manusia adalah makhluk serba dimensi, yaitu mempunyai emosi yang bersifat etis atau ingin mendapat keuntungan yang besar dan menghindari kerugian, memiliki perhatian terhadap keindahan, memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan dan punya kemampuan serta kekuatan yang berlipat ganda.
Adapun karakteristik manusia mencakup aspek:
a. Kreasi atau penciptaan manusia yang terbaik dan sempurn, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” _ QS at Tin, 95: 4
b. Ilmu (knowledge). Manusia berkesempatan untuk memahami hakekat alam semesta. Manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang sedangkan hewan terbatas pada naluri dasar yang tidak bisa di kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran
c. Kehendak manusia yang bisa mengadakan pilihan dalam hidup
d. Pengarahan akhlak. Jika manusia hidup dengan ilmu selain ilmu Allah, maka manusia tidak bermatabat lagi
B. Persamaan dan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain
Persamaan manusia dan hewan adalah memiliki hasrat atau nafsu dan diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk menyembah atau menaati ketentuan Allah dan menghindari yang Allah larang. Adapun perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah:
o Manusia memiliki potensi untuk melahirkan kebudayaan
o Pergerakan manusia lebih luas dibanding makhluk lain, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” _ QS Al Isra’, 17: 70
o Hewan hanya mempunyai kebiasaan yang bersifat instinctive
o Manusia memiliki akal dan hati
o Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” _ QS at Tin, 95: 4
o Manusia memiliki martabat yang mulia, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” _ QS Al An’am, 6: 165
C. Tujuan Penciptaan Manusia
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” QS Az Zaariyat, 51:56
Penyembahan berarti ketundukan pada hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di bumi, baik ibadah yang menyangkut hubungan vertikal (habluminallah/manusia dengan Allah) atau horizontal (habluminannas/ manusia dengan manusia serta makhluk lainnya). Keseimbangan dapat terjaga jika hukum-hukum kemanusiaan yang telah Allah tetapkan berdiri dengan tegak.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” _ QS al Bayyinah, 98: 5
D. Fungsi dan Peranan Manusia
“Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".” _ QS Al Baqoroh, 2: 30
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”_ QS Ali Imran, 3: 104
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” _ QS Ali Imran, 3: 110
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_QS Al Hujurat, 49: 13
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”_ 4:1
Peran manusia adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan membudayakan ajaran Allah, misalnya:
o Belajar (Surat an Naml, 27: 15-16; Surat Al Alaq dan al Mu’min, 40: 54). Objek belajar adalah ilmu Allah yang berwujud al Qur’an dan ciptaan-Nya
o Mengajarkan ilmu (QS Al Baqoroh, 2: 31-39). Ilmu Allah adalah al Qur’an dan al Bayan (ilmu pengetahuan). Al Qur’an berisi tentang aturan hidup dan kehidupan manusia serta hal-hal yang berhubungan dengan manusia
o Membudayakan ilmu (al Mu’min, 40: 35). Ilmu harus diamalkan. Wujud pembudayaan ilmu adalah tercapainya pola hidup dan kehidupan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, sunnah Rasul adalah contoh perwujudan dari pembudayaan ilmu
Perbedaan Manusia dengan Hewan atau Binatang – Tugas AIK
Perbedaan utama adalah kemampuan menciptakan dan menggunakan perkakas, manusia adalah mahluk dengan perkakas, tanpa menggunakan perkakas sudah lama manusia terhapus dari ekosistem dibumi. Kemampuan menerapkan teori menjadi sesuatu yang praktis.
***
Pertama, manusia makhluk paling sempurna. Selain fisik, manusia memiliki keunggulan akal. Manusia memiliki akal kreatif, inovatif dan konstruktif sedang binatang tidak. Binatang tidak dapat menggunakan otaknya untuk berfikir atau belajar dan menangkap kebenaran laiknya manusia.
Kedua, manusia harus belajar. Allah menganugerahkan hati dan akal untuk belajar. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan serta mengambil hikmah dalam berbagai peristiwa kehidupan. Manusialah yang harus menuntut ilmu untuk melaksanakan berbagai tugas kehidupan. Malalui proses belajar, manusia dapat memajukan kehidupannya, dari primitive menuju kehidupan beradab dan berbudaya.
Ketiga, manusia adalah Abdullah. Tugas utama manusia adalah untuk mengabdi atau menjadi hamba-Nya dengan penuh tunduk dan taat sepenuhnya. Inilah kehendak Allah ketika menciptakan jin dan manusia. Ibadah adalah tugas utama manusia. Baik, ibadah hablun minallah maupun ibadah hablun manannas. Kepada-Nya seorang hamba berikrar,”Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in!”
Keempat, manusia adalah khalifah. Khalifah artinya wakil Allah di bumi. Khafifah juga berarti pemimpin. Tugas sebagai khafifah adalah tugas berat namun mulia. Sebagai khafifah, manusia mengemban amanah memakmurkan bumi, menciptakan perdamaian, ketrentraman, dan kesejahteraan hidup. Sebagai khafifah, Allah menciptakan manusia setara. Hanya ketakwaan yang membedakan dari lainnya.
Kelima, manusia adalah makhluk labil. Selain, memiliki akal, manusia memiliki nafsu. Dengan akal manusia bisa melakukan perbuatan terpuji dan mulia. Tetapi dengan nafsu, manusia bisa berbuat anarki, merusak dan merugikan kehidupan. Dengan hidayah manusia bisa berbuat mulia. Tanpa hidayah, manusia hanya jadi budak nafsu. Alqur’an menyebut ada yang menjadikan nafsu sebagai Tuhannya.
Keenam, manusia dicipta untuk hidup di dua alam: dunia dan akherat. Di dunia manusia akan hidup sebentar. Dunia adalah lading amal. Akherat lebih kekal dan lebih baik. Bila baik amal dunianya, insya Allah baik akheratnya, Syurgalah tempatnya. Bila buruk dunianya, buruk pulalah akhirnya. Nerakalah ganjarannya.
Ketujuh, amal manusia dihitung. Perbuatan binatang tidak dihitung. Sekecil apa pun kebaikan manusia, Allah akan memberikan pahala. Demikian pula sekecil apa pun keburukannya, Allah akan memberikan sanksi. Takl satupun yang dirugikan. Allah Maha Adil, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Kedelapan, manusia harus bekerja. Allah menganugrahkan organ sempurna agar manusia bekerja dan berkarya. Dengan bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhan hidup dan memenuhi kewajiban social dengan penuh tanggung jawab. Bekerja adalah salah satu pintu kemuliaan manusia.
Kesembilan, manusia makhluk beragama. Dengan agama manusia menemukan dan mengabdi kepada Tuhan dengan benar. Dengan agama hidip manusia menjadi bermakna. Dengan agama, manusia yakin kepada Nabi dan Rasul-Nya, serta adanya Hari Akhir. Tentu hanya Islam agama yang dapat menjelaskan dan meyakinkan itu semua. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
Kesepuluh, manusia makhluk berbudaya. Manusia adalah makhluk kreatif, inovatif dan konstruktif yang mampu membangun pereradaban. Sejarah mencatat peradaban manusia sebagai kerya gemilang. Peradaban adalah mozaik budaya manusia yang dibangun berkat kecerdasan manusia. Jadi, sungguh berbeda memang manusia dengan binatang. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebutkan tidak sedikit manusia bergaya seperti binatang, bahkan lebih buruk lagi dari itu. Mereka tidak dapat membangun sepuluh keunggulan yang mampu diraih oleh setiap manusia.
(Sumber: Lazismu Edisi 15, Pebruari 2009)
***
Para filosof Barat mengatakan bahwa hakikatnyamanusia dan binatang sama. Perbedaannya terletak pada otak . karena itu, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah binatang yang berfikir dan berakal.
Para filosof Muslim melengkapinya dengan sarana lain,yaitu akhlak. Alhasil, manusia adalah makhluk yang punya otak dan akhlak. Seorang hukama berkata “Jika hanya punya otak saja, manusia tetap akan bertindak seperti binatang; merasa benar sendiri, tidak menghargai orang lain, suka melanggar norma susila. Akibatnya, manusia akan menjadi lebih sesat dari binatang.”
Beliau juga menambahkan, bahwa sifat dasar makhluk adalah alqassatul qalbu (keras hati), alqilla’ul haya (tak hanya punya malu) dan al-istighalu bi uyubil khalaqi (sibuk mengintai kelemahan makhluk lain). “tiga sifat dasar ini dinetralisir oleh kemuliaan dan ketinggian akhlak, sehingga manusia akan berhati lembut, memiliki rasa malu dan toleran terhadap orang lain.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar